Teropong

sumber gambar: wallpaperbetter.com

Aku melihatnya untuk kedua kali, melihatnya belasan kali, hingga melihatnya berulang kali. Tetap sama, sama seperti orang yang kulihat pertama kali. Jarak kami tidak sedekat buah yang jatuh dari pohonnya, namun jarak kami juga tidak sejauh pulau Sumatra dan pulau jawa. Ada perasaan senang saat aku melihatnya, saat mata kami saling bertemu. Melihatnya dari layar ponsel retakku saja adalah suatu kebahagiaan yang tidak akan kudapatkan setiap hari. Selain wajahnya, aku juga dapat mengenali suaranya dengan sangat jelas, dapat kubedakan sekalipun itu bercampur dengan puluhan suara lainnya.

Kehadirannya sudah seperti titik fokus di mataku, puluhan manusia tidak akan mengganggu pandanganku terhadapnya. Mataku adalah teropong untuk objek sepertinya. Objek yang akan selalu menjadi target favorit dari teropong. Sama sepertiku yang kugunakan teropongku untuk melihat hal-hal yang indah bagiku, aku tidak ingin melihat hal-hal buruk dengan teropong kesayanganku tentu saja.

Sayangnya teropong bukanlah benda abadi, adakalanya dia bermasalah, rusak, perlu diperbaiki, atau bahkan dibuang karena sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Saat teropongku rusak aku merasa sangat sedih. Tidak bisa lagi kulihat hal-hal indah dari jarak tertentu, tidak adalagi titik focus yang kutuju. Sesuatu yang dapat kulakukan hanyalah mendekat ke hal-hal indah itu, agar aku bisa kembali melihatnya kembali. Namun aku tidak dapat menemukannya, hanya suaranya yang terdengar di antara puluhan orang, hingga kini aku masih belum menemukannya lagi hanya suaranya yang terus menggema di telingaku. Teropong telah kehilangan titik fokusnya.

Komentar