Titik Menakutkan
Ku pikir hari itu adalah harinya, hari di mana kesempatan untuk bertemu dan berbincang hangat dengan dirinya. Namun sesaat kemudian ekspektasiku dihancurkan oleh nada pesan whatsapp, yang saat kulihat itu adalah sebuah pesan yang bernada permintaan maaf. Aku telah dibunuh oleh ekspektasiku sendiri, aku tak berani untuk membalasnya lagi, yang akhirnya aku diamkan beberapa jam. Itu bukan pertama kalinya, sebenarnya berkali-kali hal ini telah terjadi sebelumnya. Begitu bodoh dan lemahnya terus berkecimpung di dalam lubang yang sama. Rasanya sangat berat, sangat sulit untuk melepaskan tali yang telah aku pengang sedari lama. Aku tak kuasa untuk menariknya lebih keras, karena bisa saja membuatku terlempar. Aku tidak bisa melepaskannya padahal aku tahu mungkin aku sedang bermain sendiri, ia tidak ikut dalam permainan. Kurasa akan lebih baik jika ia memberitahu sesuatu yang sangat tidak ingin kudengar secepatnya, atau setidaknya jika gesture yang ia tunjukkan jelas. Namun semua sal...