Postingan

Titik Menakutkan

Gambar
Ku pikir hari itu adalah harinya, hari di mana kesempatan untuk bertemu dan berbincang hangat dengan dirinya. Namun sesaat kemudian ekspektasiku dihancurkan oleh nada pesan whatsapp, yang saat kulihat itu adalah sebuah pesan yang bernada permintaan maaf. Aku telah dibunuh oleh ekspektasiku sendiri, aku tak berani untuk membalasnya lagi, yang akhirnya aku diamkan beberapa jam.  Itu bukan pertama kalinya, sebenarnya berkali-kali hal ini telah terjadi sebelumnya. Begitu bodoh dan lemahnya terus berkecimpung di dalam lubang yang sama. Rasanya sangat berat, sangat sulit untuk melepaskan tali yang telah aku pengang sedari lama. Aku tak kuasa untuk menariknya lebih keras, karena bisa saja membuatku terlempar. Aku tidak bisa melepaskannya padahal aku tahu mungkin aku sedang bermain sendiri, ia tidak ikut dalam permainan.  Kurasa akan lebih baik jika ia memberitahu sesuatu yang sangat tidak ingin kudengar secepatnya, atau setidaknya jika gesture yang ia tunjukkan jelas. Namun semua sal...

Lingkaran Bayangan

 Orang-orang buruk itu kembali! Kupikir aku telah berlari menjauh dari kumpulan itu, ternyata tidak karena kakiku masih terikat oleh sebuah tiang, ya tiang yang mereka sebut teman. Bias tentang pertemanan masih saja selalu buruk untukku, definisi teman yang kupahami dan yang mereka pahami barangkali berbeda. Apa yang kupahami sebagai orang asing dalam lingkungan yang sama namun mereka pahami sebagai teman.  Berhenti membuang waktu dengan pembahasan atau janji yang sukar ditepati, itu terasa memuakkan. Makanlah saja syarat lengkapmu itu, aku tak akan pernah menjadi pengajak yang pertama. Kupikir aku adalah orang yang egois, namun setelah apa yang kulihat, aku mulai berpikir bahwa mungkin aku hanya seorang yang berprinsip. Aku tidak pernah menganggap segala hal berputar mengelilingiku, tak pernah kuselepekan siapapun, tidak pernah berpikir bahwa diriku adalah manusia yang memiliki jadwal penuh. Semua masih bisa kuatur jika itu tidak keluar dari prinsip dan tujuanku.  Sialny...

Merahkan Agustus

Agustus, bulan yang penuh dengan semangat, setidaknya itu yang anggapan banyak orang. Kemerdekaan, upacara, pengibaran bendera, karnaval, pertunjukan, serta lomba-lomba di berbagai tempat. Tua hingga muda berbaur, menyatu dalam kerumunan-kerumunan. Tahun ini, setidaknya aku memiliki tempat untuk berbaur dalam keramaian orang-orang. Tidak menyukainya tapi juga tidak membencinya, menambah pengalaman kehidupan sosialku.  Setengah hari yang awalnya kuanggap akan berjalanan santai dan tenang justru sebaliknya, lomba-lomba itu benar-benar menguras fisik secara parsial, terfokus di bagian kaki. Namun aku menikmatinya, walaupun dibeberapa moment itu berjalan menyebalkan. Jika kalah dengan cara normalnya atau sportif mungkin tidak akan se kesal itu, namun kalah dengan cara yang kejam tentu hal yang berbeda. Ini bukanlah kejuaraan dunia atau nasional, dan bukanlah perlombaan berkelas atau di tempat yang luar biasa, dilakukan secara tidak sportif seperti itu terasa menyedihkan dan menyakitkan...

Kursi Plastik

Gambar
Sumber gambar: magisdesign.com Hari itu adalah hari yang cerah di pagi hari, yang mana aku datang dengan penuh keraguan dan rasa inferior berlebih. Pada hari itu dan jam itu aku duduk di kursi plastik dengan perasaan terkejut dan juga ada sedikit rasa senang setelah hasil yang kudapatkan. Saat akan meninggalkan ruangan, aku menatap kembali kursi plastik itu dan berkata dalam hati, terimakasih aku akan melakukan yang terbaik mulai dari sekarang. Dua, tiga bulan yang mana kurasa aku telah melakukan sebaik apa yang kubisa, tibalah hari dimana aku kembali melihat dan duduk di kursi plastik itu lagi.   Kursi itu kosong tepat di depan mataku, hingga beberapa menit kemudian seseorang mendudukinya. Lalu hasil yang kudapat dari dalam ruangan itu sangat membuatku tak nyaman dan juga kesal. Orang itu pergi meninggalkan ku dihadapan kursi plastik itu lagi, aku menatapnya dan bertanya “apa yang terjadi?” Kurasa aku telah melakukan sebaik apa yang kubisa, sesuai dengan apa yang menjadi tanggun...

Pandangan

Gambar
Kurasa orang-orang hanya memiliki dua pandangan terhadap seseorang yaitu baik dan buruk, mungkin bertambah satu yaitu kau tak terlihat olehnya. Baik atau buruknya pandangan tersebut sebenarnya bukanlah penilaian absolut yang dapat kita terima sepenuhnya. Awalnya pandangan baik yang diterima akan membuat (aku) senang, itu benar walaupun tidak sepenuhnya menurutku. Apa yang orang tanamkan melalui pandangan itu ibaratnya seperti penjara yang akan membelenggu dalam lingkaran setan yang tiada habisnya, entah itu baik atau buruk. Kau akan sulit untuk berubah karena pandangan tersebut ibarat sihir yang membuatmu menurut untuk menyamakannya. Itu semua tidak berarti apapun, jika seseorang telah memandangmu dengan pilihan ketiga, yaitu tak terlihat atau kau tak pernah dianggap. Bagi sebagian orang ini bukanlah suatu masalah, kurasa aku juga berpikir begitu. Namun ada yang membuat ketidaknyamanan muncul yaitu dimana   banyak suara-suara disekitarmu yang hanya berlalu lalang ditelinga, jika ...

Tanjakan

Gambar
Sumber gambar: icons8.com Banyak orang lebih memilih turunan ketimbang tanjakan, saat mendaki gunung mereka mengatakan bahwa tanjakan lebih berat dan turunan lebih mudah dan cepat untuk dilalui. Sementara dari apa yang kupikirkan kurasa aku lebih menyukai tanjakan, bukan berarti aku pasti akan memilih tanjakan. Dengan tanjakan seseorang akan mengerahkan usaha lebih untuk melewatinya, tumpuan kekuatan dan juga daya tahan sangat perlu diperhatikan sedari garis awal memulai agar tidak terhenti di tengah jalan. Beberapa jalan dalam hidupku pernah kulali dengan menanjak, namun kurasa aku tidak menyelesaikannya karena itu tadi, aku tidak memulainya dengan baik. Namun kutakut dengan turunan aku memutuskan untuk tidak berbalik, namun tidak melangkah maju, hanya berada di tempatku saat ini. Turunan memang terasa mudah dan tidak melelahkan, namun saat kutau aku tidak bisa mengatur tempat berhentiku, itulah yang aku takutkan bahwa aku justru hanya terjun tanpa tahu tempat berhenti yang tepat. ...

Teropong

Gambar
sumber gambar: wallpaperbetter.com Aku melihatnya untuk kedua kali, melihatnya belasan kali, hingga melihatnya berulang kali. Tetap sama, sama seperti orang yang kulihat pertama kali. Jarak kami tidak sedekat buah yang jatuh dari pohonnya, namun jarak kami juga tidak sejauh pulau Sumatra dan pulau jawa. Ada perasaan senang saat aku melihatnya, saat mata kami saling bertemu. Melihatnya dari layar ponsel retakku saja adalah suatu kebahagiaan yang tidak akan kudapatkan setiap hari. Selain wajahnya, aku juga dapat mengenali suaranya dengan sangat jelas, dapat kubedakan sekalipun itu bercampur dengan puluhan suara lainnya. Kehadirannya sudah seperti titik fokus di mataku, puluhan manusia tidak akan mengganggu pandanganku terhadapnya. Mataku adalah teropong untuk objek sepertinya. Objek yang akan selalu menjadi target favorit dari teropong. Sama sepertiku yang kugunakan teropongku untuk melihat hal-hal yang indah bagiku, aku tidak ingin melihat hal-hal buruk dengan teropong kesayanganku te...