Merahkan Agustus

Agustus, bulan yang penuh dengan semangat, setidaknya itu yang anggapan banyak orang. Kemerdekaan, upacara, pengibaran bendera, karnaval, pertunjukan, serta lomba-lomba di berbagai tempat. Tua hingga muda berbaur, menyatu dalam kerumunan-kerumunan. Tahun ini, setidaknya aku memiliki tempat untuk berbaur dalam keramaian orang-orang. Tidak menyukainya tapi juga tidak membencinya, menambah pengalaman kehidupan sosialku. 

Setengah hari yang awalnya kuanggap akan berjalanan santai dan tenang justru sebaliknya, lomba-lomba itu benar-benar menguras fisik secara parsial, terfokus di bagian kaki. Namun aku menikmatinya, walaupun dibeberapa moment itu berjalan menyebalkan. Jika kalah dengan cara normalnya atau sportif mungkin tidak akan se kesal itu, namun kalah dengan cara yang kejam tentu hal yang berbeda. Ini bukanlah kejuaraan dunia atau nasional, dan bukanlah perlombaan berkelas atau di tempat yang luar biasa, dilakukan secara tidak sportif seperti itu terasa menyedihkan dan menyakitkan bagiku. Beruntungnya di lomba-lomba selanjutnya aku bisa membalas kekalahan sebelumnya.

Rekan se-team yang hebat dan luar biasa, sangat membantu di lomba-lomba berikutnya, aku berterimakasih untuk hal itu. Kekompakkan dan integritas sebagai team kami tunjukkan, yang kurasa terbayar dengan apa yang didapat. Tibalah akhir, yaitu malam yang melelahkan dan pegal di sekujur kaki, mungkin itu terasa lebih pegal dibanding setelah futsal atau lari 5km. 

Kabar tidak mengenakkan datang dua hari setelahnya, salah seorang rekan se-teamku mengalami musibah. Tidak ada yang bisa kukatakan, namun aku turut bersedih, sungguh! Aku adalah salah satu orang yang merasa bersalah tentu saja, walaupun mungkin itu bukan kebenarannya. Mari lebih kuat dan kembali berdiri tegak! 

170823

Komentar