Menyadari Bahwa Seseorang Adalah Temanku

 



Aku bukanlah seseorang yang pandai bersosialisasi, jangankan mengobrol untuk menyapa orang yang baru kukenalpun aku tidak berani. Ini membuatku nampak seperti hembusan angin atau lalu-lalang sepeda motor yang melintas dihadapan orang-orang. Hari-hariku memang selalu monoton, namun tak masalah karena itu juga nyaman bagiku. Berusaha menjalani hari demi hari sebaik mungkin tanpa kesalahan, dan juga tanpa gerakan yang sia-sia, menjadi salah satu prinsipku. 

Bukannya tak mempunyai teman, aku hanya memiliki sedikit diantaranya. Orang-orang yang menjadi teman awalku adalah teman-teman sewaktu masih di sekolah dasar. Pertemanan kami terasa erat, menurutku. Lingkungan yang dekat membuat hubungan pertemanan makin intim, dekat, dan solid, tak sungkan pun kami saling kenal dan sapa dengan keluarga-keluarga teman-teman kami. Nyatanya hubungan pertemanan kami, sekitar 8 orang laki-laki, lebih lama lagi dari yang dibayangkan. Kami kembali satu sekolah saat sekolah menengah pertama, walaupun kami tidak satu kelas lagi. Beberapa orang baru masuk dalam lingkaran pertemanan kami, namun sejauh apa yang terjadi itu tidak menjadi masalah. 

Sekolah menengah atas, kami mulai berpisah dan renggang, karena berbeda-beda sekolah. Apalagi kegiatan di sekolah menengah atas juga semakin kompleks, jam pelajaran, eksul, les, bimbingan, hingga kegiatan di luar sekolah. Ku pikir kami sudah tidak akan bisa berkumpul atau sekedar berbincang-bincang secara langsung, namun namun kami tetap bisa melakukannya di hari-hari tertentu atau bahkan kerap kali kami dapat pulang sekolah di waktu yang sama. 

Mungkin ada pertanyaan, apakah tidak ada romance selang waktu di SMP-SMA itu? Tentu ada, namun itu akan berada di tulisan yang berbeda. 

Selama waktu SMP aku tidak memiliki orang yang disebut teman, hanya orang-orang yang berada di kelas yang sama. Kukira saat sma keadaan juga tidak berbeda jauh, dan aku tidak akan kecewa karena sudah terbiasa. Selama awal semester berjalan sesuai dengan yang kupikir. Namun lambat laun, yang kupikirkan berubah, apa yang biasa disebut teman ada. Masih dengan diriku yang sulit untuk bersosialiasi, namun merekalah yang menuntunku untuk tergabung ke dalam lingkaran, seolah mereka mengerti aku dan bagaimana aku. 

Tiga tahun pertemanan terjalin selama masa SMA, hingga dihadapkan pada jenjang perguruan tinggi dan dunia kerja. Kami menyebar ke berbagai daerah yang terdapat perguruan tingginya. Jakarta, adalah tempatku menuju, tidak ada teman lain yang memilih disini. Hingga pada tahun kedua di universitas, aku mendapat kabar bahwa salah seorang teman SMAku akan berkuliah di Jakarta juga, namun berbeda universitas. Tidak ada perasaan khusus, seperti senang dan sebagainya bagiku. 

Selama aku menempuh pendidikan sarjana, selama itu pula awalnya aku masih saling terhubung dengan teman-teman SMA, dan selama waktu ini juga aku banyak melakukan cut off terhadap orang-orang SMA ini yang kurasa memang mereka bukanlah temanku. Mulai dari mereka yang menyepelekanku, hingga mereka yang sering minta bantuanku dan gilirannya aku meminta bantuan mereka mengabaikanku, serta mereka yang hanya memanfaatkanku yaitu teman SMAku yang juga berada di Jakarta. Bagaimana dengan teman SD? Kurasa masih sama hanya dengan gairah yang berbeda, karena mayoritas dari mereka memilih langsung bekerja, jadi aku lost contact dengan beberapa teman ini. Namun semuanya masih berjalan baik, saat ada waktu berkumpul, kami berkumpul masih dengan perasaan hangat dan kekeluargaan dari orang-orang yang tumbuh bersama ini. Aku sadar siapa yang dapat disebut teman dan siapa yang hanya sekedar orang-orang yang kebetulan berada di lingkungan yang sama. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merahkan Agustus

Titik Menakutkan