Titik Menakutkan

Ku pikir hari itu adalah harinya, hari di mana kesempatan untuk bertemu dan berbincang hangat dengan dirinya. Namun sesaat kemudian ekspektasiku dihancurkan oleh nada pesan whatsapp, yang saat kulihat itu adalah sebuah pesan yang bernada permintaan maaf. Aku telah dibunuh oleh ekspektasiku sendiri, aku tak berani untuk membalasnya lagi, yang akhirnya aku diamkan beberapa jam. 
Itu bukan pertama kalinya, sebenarnya berkali-kali hal ini telah terjadi sebelumnya. Begitu bodoh dan lemahnya terus berkecimpung di dalam lubang yang sama. Rasanya sangat berat, sangat sulit untuk melepaskan tali yang telah aku pengang sedari lama. Aku tak kuasa untuk menariknya lebih keras, karena bisa saja membuatku terlempar. Aku tidak bisa melepaskannya padahal aku tahu mungkin aku sedang bermain sendiri, ia tidak ikut dalam permainan. 


Kurasa akan lebih baik jika ia memberitahu sesuatu yang sangat tidak ingin kudengar secepatnya, atau setidaknya jika gesture yang ia tunjukkan jelas. Namun semua salah ku, bagaimana pecundangnya aku tidak pernah mampu untuk mengungkapkan hal-hal yang ingin ku ungkap kepadanya. Aku memiliki beberapa kesempatan, walaupun hanya dalam hitungan jari namun sebenarnya itu lebih dari cukup, sayangnya aku kehilangan moment atau timing tersebut, atau justru aku sendiri yang ingin timing itu hilang. 

Sedih, bahkan sangat sedih jika semua yang telah masuk dalam ekspektasiku runtuh. Tidak pernah kubayangkan, seseorang dimana aku menaruh kisah dan peristiwa, serta moment tiba-tiba menghilang. Saat di mana aku tidak bisa menghubunginya lagi bukan karena kesibukan atau sesuatu namun karena sebuah penolakan. Kurasa itu lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kehilangan seorang teman, teman bukan sahabat. 

Kuharap aku dapat segera bertemu dan berbicara dengannya! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merahkan Agustus

Menyadari Bahwa Seseorang Adalah Temanku